SURAT UNTUK KAWAN

Senin, 09 Juni 2014

Kawan, selamat atas kemenanganmu. tak banyak yang aku perbuat untukmu. Aku tak biasa menulis tentang cerita. Tapi, untuk mengenang kemenanganmu aku paksakan.

Beberapa hari X 24 Jam aku susah tidut. Aku takut, aku resah, semua itu menggelayut dalam Pikiranku. Takut dirimu tak sampai pada 'Gerbang'. ketakutanku menjadi sempurna saat beberapa orang ingin 'bermain' dan mencoba memberikan isu pada dirimu. aku tidak mau mimpi panjang kita 'rusak' gara-gara sepotong menusia ini.

Kawan, aku percaya kamu akan objektif dalam menilai. Cuma, khawatir itu tetap ada. dan ternyata benar, kau lebih bijaksana.

Aku tidak pernah melihat latar belakangmu, juga tidak melihat orang-orang yang ada dibalik layar. Aku hanya melihat engkau. Karena aku yakin, dirimu akan menjadi kawanku yang tetap memegang prinsip hidup.

Aku masih ingin bergurau denganmu ketuika aku ketempatmu harus panggil dengan kata Sahabat, dan jika ketempatku kau harus memanggil kawan tanda kebebasan kita bergaul tanpa melihat latar belakang. Aku masih ingin berdiskusi denganmu, meskipun orang lain mengatakan diskusi kita 'gak jelas'.

Kawan, sekarang kau ada didepan, dan aku ada dibelakang dengan perbedaan. Dan, aku tidak akan pernah mau ada didepan. Biarlah orasimu menggema langit, aku tetap ingin 'Berbisik' padamu sambil mengingatkan Hati-hati penumpang gelap lalu mungkin kaun akan menyambutku dengan tawa.

Suatu saat kita akan pulang di kota yang sama. Aku punya harapan akan terus bersama membangun apa yang kita cita-citaka, dan tetap, kau ada didepan, dan aku dibelakang. dan, aku akan mengingat tentang kita, tentang kamu yang tertipu waktu bermalam di kost-mu. Saat itu aku bilang padamu Kawan, hati-hati dengan tasku, didalam ada al-Qur'annya. Tapi ternyata,setelah kau penasaran, kau melanggarnya dan mengecek isi tasku, ternyata hanya isi baju ganti. Pada waktu itu aku masih belum punya tempat untuk bermalam. Dan, aku hanya berharap sambutan tawa darimu seperti waktu aku menceritakan tentang sebutan Hermes pada hasib.

Kawanku, aku juga mungkin akan selalu ingat, dan suatu saat akan bercerita tentang kita 1 hari sebelum pertarunganmu. Saat aku 'menggoda' cewew berkerudung biru (mungkin pacarmu) yang mana cewe itu kau suruh menjawab anak kecil tak boleh dekat-dekat dengan orang baru. Lagi-lagi aku yakin kita akan terawa mengingat itu. Aku tidak akan mengingat orang-orang yang mencoba mengadu domba kita, sebab itu pasti hanya membuat kita kesal. Hal-hal yang hanya akan membuat kita kesal mungkin seharusnya tak usah kita ingat. Cukup kita rasakan dan kita ambil hikmahnya saja.

Kawan, aku berharap tulisan ini sampai padamu. ahh tapi tak mungkin kau baca, sebab ini terlalu jellek untuk engkau yang sudah bertaraf intelek (mungkin). Aku berharap kau tahu perasaanku begitu senang nyaris sempurna mendengat kemenanganmu. Setelah kekhawatiranku, kni terjawab. WINNER...!!!

Aku berharap kau selalu ingat masa-masa ini kawan. Semoga kita menjadi 'sepasang' manusia yang mampu mengubah jendela dunia, walaupun hanya sebatas Dunia kecil. Dan lagi-lagi, kau harus tetap didepan, aku aku ingin dibelakang.

Kawan, sekarang sudah kuantar engkau, atau lebih tepatnya aku menjadi salah satu pengantarmu ke 'Gerbang Impian'. Tapi, Aku tetap mau dibelakang, dan kau harus didepan. Tapi, jangan sampai salah arah, sebab KAU DIDEPAN, AKU DIBELAKANG.

SELAMAT KAWAN....!!!!!




02.18 WIB 06-06-2014
di Komisariat GMNI.

TAS-KU DAN KECEROBOHANKU

Senin, 07 April 2014



Catatan Harian; Pamekasan, 05-maret-2014.
“Kadang ketidak sengajaan seseorang menimbulkan sebuah kecurigaan yang mendekati fitnah. Jadi hati – hatilah dalam bertindak”. Mungkin hal ini menjadi refleksi tersendiri pada catatanku hari ini. Kenapa? Karena pada tanggal 26 februari adalah kejadian yang tidak mengenakkan hati bagiku. Pada waktu itu aku mengembalikan netbook ke rumah si Mata murkak, dan tasku ketinggalan dirumah sepupunya. Bukan atas kesengajaan tasku tertinggal, tapi ya begitulah kira-kira kecurigaan seseorang padaku.
Orang – orang (baca, sepupunya) ada yang bilang kalau aku sengaja meninggalkan tas tersebut agar aku bisa kembali kerumah tersebut (Modus). Ahh, alangkah kecurigaan bodoh bagiku. Karena, buat apa? Mereka mengira aku begitu karena aku baru menjalin hubungan dengan si Mata murkak. Padahal, jika aku memang berniat untuk bertemu, ada cara yang lebih praktis untuk hal itu.
Dan pada tanggal 2 maret, tepatnya hari minggu kemaren aku mau parani tas tersebut, karena aku harus balik ke pamekasan. Perasaan was – was menyelimuti pikiranku, aku berusaha mencari waktu yang tepat. Begini baru saya rasakan, ketidak sengajaan dalam bertindak akan menimbulkan respon yang macam – macam jika tidak hati – hati. Lalu bagaimana dengan orang yang sudah terbiasa modus? Mungkin, tidak hanya menjadi kecurigaan saja. Keyakinanku pasti setiap bertindak akan menjadi kekhawatiran untuk orang lain.
Minggu malam senin, setelah shalat isya’ aku parani Tasku. Ditemani gemercak cahaya bintang, dan sepoian dingin seakan menjadi penghias ketidak-enakannya perasaanku. Secepat mungkin aku membawa motor CS1 milik nom Ilyas agar aku bisa segera langsung pulang.
Dahulu, sebelum aku mendapat penyadaran, kejadian semacam ini menjadi sebuah kebiasaan bagiku. Dengan keyakinan bahwa manusia mempunyai sifat ‘salah dan lupa’, aku sudah puas diri tanpa memikirkan bagaimana dampak yang lain. Sekarang baru sadar kalau hal itu sebenarnya kebiasaan yang tidak baik. Berhati – hati hukumnya wajib menurut hemat saya.
Ketika kejadian demi kejadian ketidak hati-hatianku terulang, baru saya rasakan bagaimana dampaknya. Aku teringat dalil yang disampaikan Guru, “Orang yang baik bagi Allah adalah orang yang baik bagi Manusia”, kalau gak keliru sih begitu. Lalu, jika setiap perbuatanku selalu dianggap Modus, apa ini baik menurut manusia? Tentu saja tidak. Dan, kalau sudah tidak baik untuk manusia bagaimana mau baik merurut Allah?. Saya, ingat – ingat bagaimana sebenarnya Kelakuanku dari dahulu. Tidak mungkin, jika bukan karena sikap dan sifatku, orang akan menilai begitu padaku. Mungkin, aku dahulu pernah atau bahkan sering melakukan hal yang dianggap modus? Ntahlah, tak mungkin juga aku akan mengingat satu persatu memoriku yang sudah lama usang.
Aku juga sering mengentengkan menghadapi orang yang selalu membicarakan ke kurangan atau kejelekanku. “Biarkan orang mau ngomong apa, kalau mereka membicarakan kejelakan atau kekuranganku, mereka hanya akan mengurangi dosa – dosaku” dengan PD aku selalu berkeyakinan begitu. Padahal, jika kita telisik lebih dalam, orang tidak akan demikian kalau kita tidak ‘memulai’. Kecuali, orang gak waras saja yang mau mengatakan kepada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Memang sih, setiap manusia pasti mempunyai salah. Yang namanya makhluk Allah bernama manusia diciptakan memang tidak untuk menjadi robot layaknya Malaikat. Dan Allah tidak akan menciptakan seseorang yang sempurna kecuali Rasulullah. Kewajiban kita hanya berusaha menjadi orang yang selalu lebih baik.
Orang yang dibicarakan karena kejelekannya bisa dipastikan orang itu pernah melakukan hal kejelekan dan diketahui oleh orang disekitar kita. Tidak mungkin seorang Tokoh dicurigai sebagai koruptor jika orang tersbut tidak pernah ‘Dekat’ dengan yang namanya Korupsi. Dan, seorang Maling tidak mungkin akan mendapat julukan Santri hanya karena sering sowan ke Kiai, kecuali benar-benar insaf, setidaknya berganti nama menjadi mantan maling. Mungkin, kira – kira begitu penjelasan saya, meskipun agak membingungkan. Atau bisa saja kita dibicarakan karena kita juga sering hadir dalam majlis Al Gosipiah lalu kita ikutan dalam bergosip. Dengan kita hadir dalam Pergosipan tersebut, orang tidak akan segan kepada kita untuk meng-gosipi kita.
Jadi, sekali lagi, Hidup itu harus berhati – hati . Saya juga pernah mendengar petuah yang ntah itu Hadist atau apa saya lupa, intinya, “seuatu yang hukumnya wajib, maka jalan menuju wajib akan menjadi wajib juga”. Mungkin ini konteksnya dalam belajar ilmu Wajib seperti Ilmu  Baca Qur’an dll. Tapi jika di apliksikan dalam kehidupan, mungkin akan menjadi lebih baik untuk bahan renungan kita agar lebih hati-hati. Jadi, menurut hasil riset pribadi saya jika kita tidak mau dibicarakan kejelekannya, maka menjauhi hal –hal yang buruk hukumnya menjadi wajib. Dan jika ingin dinilai bagus, baik dsb, maka menjadi orang yang baik hukumnya menjadi wajib juga berusaha melakukan yang terbaik. Dan agar kita tidak dibicarakan sama orang lain, maka wajib kita menjauhi pekerjaan buruk. Jalan menuju suatu perbuatan itu yang wajib kita perhatikan. Bukankah kita ketika mau pergi ke surabaya jika dari madura, kita terlebih dahulu wajib tahu jalan menuju Suramadu atau ke pelabuhan kamal? Baru kita Bisa tau dimana itu surabaya.
Tulisan ini saya saya tulis malam ini, karena mendapat pinjaman Netbook milik teman. Dari pada di diemin atau melakukan hal yang gak jelas, saya pikir menulisa begini adalah sesuatu yang lebih positif, meskipun tulisan ini sepertinya ‘tak layak dibaca umum’. Namun, harapan saya, Semoga saja ini menjadi ‘tamparan’ positif untuk saya bagaimana kedepan agar menjadi lebih baik.