Catatan
Harian; Pamekasan, 05-maret-2014.
“Kadang
ketidak sengajaan seseorang menimbulkan sebuah kecurigaan yang mendekati
fitnah. Jadi hati – hatilah dalam bertindak”. Mungkin hal ini menjadi refleksi
tersendiri pada catatanku hari ini. Kenapa? Karena pada tanggal 26 februari
adalah kejadian yang tidak mengenakkan hati bagiku. Pada waktu itu aku
mengembalikan netbook ke rumah si Mata
murkak, dan tasku ketinggalan dirumah sepupunya. Bukan atas kesengajaan
tasku tertinggal, tapi ya begitulah kira-kira kecurigaan seseorang padaku.
Orang
– orang (baca, sepupunya) ada yang bilang kalau aku sengaja meninggalkan tas
tersebut agar aku bisa kembali kerumah tersebut (Modus). Ahh, alangkah
kecurigaan bodoh bagiku. Karena, buat apa? Mereka mengira aku begitu karena aku
baru menjalin hubungan dengan si Mata
murkak. Padahal, jika aku memang berniat untuk bertemu, ada cara yang lebih
praktis untuk hal itu.
Dan
pada tanggal 2 maret, tepatnya hari minggu kemaren aku mau parani tas tersebut,
karena aku harus balik ke pamekasan. Perasaan was – was menyelimuti pikiranku,
aku berusaha mencari waktu yang tepat. Begini baru saya rasakan, ketidak
sengajaan dalam bertindak akan menimbulkan respon yang macam – macam jika tidak
hati – hati. Lalu bagaimana dengan orang yang sudah terbiasa modus? Mungkin, tidak hanya menjadi
kecurigaan saja. Keyakinanku pasti setiap bertindak akan menjadi kekhawatiran
untuk orang lain.
Minggu
malam senin, setelah shalat isya’ aku parani Tasku. Ditemani gemercak cahaya
bintang, dan sepoian dingin seakan menjadi penghias ketidak-enakannya
perasaanku. Secepat mungkin aku membawa motor CS1 milik nom Ilyas agar aku bisa
segera langsung pulang.
Dahulu,
sebelum aku mendapat penyadaran, kejadian semacam ini menjadi sebuah kebiasaan
bagiku. Dengan keyakinan bahwa manusia mempunyai sifat ‘salah dan lupa’, aku
sudah puas diri tanpa memikirkan bagaimana dampak yang lain. Sekarang baru
sadar kalau hal itu sebenarnya kebiasaan yang tidak baik. Berhati – hati
hukumnya wajib menurut hemat saya.
Ketika
kejadian demi kejadian ketidak hati-hatianku terulang, baru saya rasakan
bagaimana dampaknya. Aku teringat dalil yang disampaikan Guru, “Orang yang baik
bagi Allah adalah orang yang baik bagi Manusia”, kalau gak keliru sih begitu.
Lalu, jika setiap perbuatanku selalu dianggap Modus, apa ini baik menurut manusia? Tentu saja tidak. Dan, kalau
sudah tidak baik untuk manusia bagaimana mau baik merurut Allah?. Saya, ingat –
ingat bagaimana sebenarnya Kelakuanku dari dahulu. Tidak mungkin, jika bukan
karena sikap dan sifatku, orang akan menilai begitu padaku. Mungkin, aku dahulu
pernah atau bahkan sering melakukan hal yang dianggap modus? Ntahlah, tak
mungkin juga aku akan mengingat satu persatu memoriku yang sudah lama usang.
Aku
juga sering mengentengkan menghadapi orang yang selalu membicarakan ke kurangan
atau kejelekanku. “Biarkan orang mau
ngomong apa, kalau mereka membicarakan kejelakan atau kekuranganku, mereka
hanya akan mengurangi dosa – dosaku” dengan PD aku selalu berkeyakinan
begitu. Padahal, jika kita telisik lebih dalam, orang tidak akan demikian kalau
kita tidak ‘memulai’. Kecuali, orang gak waras saja yang mau mengatakan kepada
orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Memang sih, setiap manusia pasti
mempunyai salah. Yang namanya makhluk Allah bernama manusia diciptakan memang
tidak untuk menjadi robot layaknya
Malaikat. Dan Allah tidak akan menciptakan seseorang yang sempurna kecuali
Rasulullah. Kewajiban kita hanya berusaha menjadi orang yang selalu lebih baik.
Orang
yang dibicarakan karena kejelekannya bisa dipastikan orang itu pernah melakukan
hal kejelekan dan diketahui oleh orang disekitar kita. Tidak mungkin seorang
Tokoh dicurigai sebagai koruptor jika orang tersbut tidak pernah ‘Dekat’ dengan
yang namanya Korupsi. Dan, seorang Maling tidak mungkin akan mendapat julukan
Santri hanya karena sering sowan ke Kiai, kecuali benar-benar insaf, setidaknya
berganti nama menjadi mantan maling. Mungkin, kira – kira begitu penjelasan
saya, meskipun agak membingungkan. Atau bisa saja kita dibicarakan karena kita
juga sering hadir dalam majlis Al
Gosipiah lalu kita ikutan dalam bergosip. Dengan kita hadir dalam
Pergosipan tersebut, orang tidak akan segan kepada kita untuk meng-gosipi kita.
Jadi,
sekali lagi, Hidup itu harus berhati – hati . Saya juga pernah mendengar petuah
yang ntah itu Hadist atau apa saya lupa, intinya, “seuatu yang hukumnya wajib, maka jalan menuju wajib akan menjadi wajib
juga”. Mungkin ini konteksnya dalam belajar ilmu Wajib seperti Ilmu Baca Qur’an dll. Tapi jika di apliksikan
dalam kehidupan, mungkin akan menjadi lebih baik untuk bahan renungan kita agar
lebih hati-hati. Jadi, menurut hasil riset pribadi saya jika kita tidak mau
dibicarakan kejelekannya, maka menjauhi hal –hal yang buruk hukumnya menjadi
wajib. Dan jika ingin dinilai bagus, baik dsb, maka menjadi orang yang baik
hukumnya menjadi wajib juga berusaha melakukan yang terbaik. Dan agar kita
tidak dibicarakan sama orang lain, maka wajib kita menjauhi pekerjaan buruk.
Jalan menuju suatu perbuatan itu yang wajib kita perhatikan. Bukankah kita
ketika mau pergi ke surabaya jika dari madura, kita terlebih dahulu wajib tahu
jalan menuju Suramadu atau ke pelabuhan kamal? Baru kita Bisa tau dimana itu
surabaya.
Tulisan
ini saya saya tulis malam ini, karena mendapat pinjaman Netbook milik teman.
Dari pada di diemin atau melakukan hal yang gak jelas, saya pikir menulisa
begini adalah sesuatu yang lebih positif, meskipun tulisan ini sepertinya ‘tak
layak dibaca umum’. Namun, harapan saya, Semoga saja ini menjadi ‘tamparan’
positif untuk saya bagaimana kedepan agar menjadi lebih baik.